Seringkali kita menganggap bahwa orang yang cerdas hanya terpaku pada kecerdasan ilmu dunia saja. Padahal sebenarnya orang yang cerdas orang yang cintanya kepada akhirat jauh melebuhi cintanya pada dunia. Hal itu akan membuatnya menjadi pemenang di hari akhirat yang kekal.
Lalu, bagaimana agar kecintaan kita pada akhirat melebihi kecintaan kita pada akhirat?
Salah satu caranya adalah biasakan untuk melakukan tilawah dan berdzikir setelah terbit subuh hingga terbit fajar, shalat tahajud, dan melakukan amalan-amalan sunnah yang lainnya.
Semakin tinggi kebutuhan akan akhirat maka akan semakin tinggi kecintaannya pada akhirat.
Dalam Q.S. Al Isra' (17) ayat 18-19, " Bagi yang menghendaki dunia, maka akan diberikan segera untuknya. Namun di akhirat baginya neraka jahanam. Dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh,maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik".
Kekayaan yang sesungguhnya letaknya adalah di jiwa, bukan di harta. Oleh karena itu kita akan selalu merasa cikup.
Allah akan meletakkan kefakiran diantara dua mata kepada orang yang selalu terorientasi pada dunia. Ia tidak akan merasa cukup dan selalu melihat kepada orang yang 'lebih' daripada ia.
Alam akhirat terus berjalan mendekati kita sementara alam dunia terus berjalan meninggalkan kita. Hal ini karena dunia ini kelak akan berakhir dan kita semakin berjalan mendekati akhirat yang selamanya.
Jadilah penghuni akhirat, bukan sebagai penghuni dunia. KArena rumah yang sesungguhnya adalah di akhirat. Ingatlah, hari esok di akhirat adalah penghitungan yang tidak ada lagi amalan.
Dunia adalah tempat ujian sedangkan akhirat adalah tempat tinggal selamnya....
No comments:
Post a Comment